Mata Kuliah Perilaku Organisasi (STMIK PRABUMULIH)
ORGANISASI DAN KOMUNIKASI
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Manusia di dalam
kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan
kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu
hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi
sosial dengan sesama dalam kelompok dan masyarakat. Di dalam kelompok ataupun
organisasi, selalu terdapat bentuk kepemimpinan yang merupakan masalah penting
untuk kelangsungan hidup kelompok, yang terdiri dari atasan danbawahannya.
Komunikasi dirumuskan
sebagai suatu proses penyampaian pesan atau berita ke beberapa orang.
Dikarenakan komunikasi melibatkan seorang pengirim dan menerima pesan yang
mungkin juga memberikan umpan balik untuk menyatakan bahwa pesan telah diterima. Komunikasi
sangat penting dalam kehidupan manusia karena manusia adalah makhluk sosial
yang saling membutuhkan satu sama lain. Dalam berkomunikasi seseorang harus
memiliki dasar yang akan menjadi patokan seseorang tersebut dalam berkomunikasi.
Dalam proses komunikasi juga terdapat banyak hambatan-hambatan dalam
berkomunikasi.
Tujuan komunikasi adalah
berhubungan dan mengajak dengan orang lain untuk mengerti apa yang kita
sampaikan dalam mencapai tujuan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan dalam
bekerja sama dengan orang lain. Ada dua jenis komunikasi, yaitu verbal dan non
verbal, komunikasi verbal atau tertulis dan komunikasi non verbal atau
bahasa(gerak) tubuh.Komunikasi dua arah terjadi bila pengiriman pesan dilakukan
dan mendapatkan umpan balik. Seseorang dalam berkomunikasi pasti dapat
merasakan timbal balik antara pemberi informasi serta penerima informasi
sehingga terciptanya suatu hubungan yg mutualisme antara keduanya
Komunikasi organisasi dapat
didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiranpesan di antara unit-unit
komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi
terdiri dari dari unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarkis antara yang
satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan. Komunikasi organisasi
melibatkan bentuk-bentuk komunikasi antar
pribadi dan komunikasi kelompok.
Karena pentingnya
komunikasi yang timbal balik diantara manajer dan pengikut yang ada dalam
organisasi untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Maka penulis tertarik untuk
membahas bab komunikasi dan organisasi lebih lanjut.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.
Apa yang dimaksud komunikasi dalam organisasi
?
2.
Apa saja sifat-sifat komunikasi?
3.
Apa saja tujuan komunikasi dalam organisasi?
4.
Apa itu Komunikasi Lintas Budaya?
5.
Apa saja jenis-jenis Komunikasi?
6.
Bagaimana proses komunikasi?
7.
Bagaimana pemrosesan informasi elektronik dan
telekomunikasi?
8.
Apa yang dimaksud dengan jaringan komunikasi?
9.
Bagaimana jaringan kelompok kecil?
10. Bagaimana
jaringan komunikasi organisasi?
11. Bagaimana
mengolah komunikasi?
12. Bagaimana
cara meningkatkan komunikasi organisasi?
13. Apa
saja factor-faktor oragnisasi dalam komunikasi?
1.3 TUJUAN PENULISAN
1.
Menjelaskan yang dimaksud komunikasi dalam
organisasi.
2.
Menyebutkan sifat-sifat komunikasi.
3.
Mengetahui tujuan dari komunikasi organisasi.
4.
Menjelaskan komunikasi lintas budaya.
5.
Menyebutkan jenis-jenis komunikasi.
6.
Menjelaskan proses komunikasi.
7.
Menjelaskan pemrosesan informasi elektronik
dan telekomunikasi.
8.
Mengeatahui apa itu jaringan komunikasi.
9.
Menjelaskan jaringan kelompok kecil.
10. Menjabarkan
jaringan komunikasi organisasi.
11. Menjelaskan
mengolah komunikasi.
12. Mengetahui
cara meningkatkan komunikasi organisasi.
13. Menyebutkan
faktor-faktor oragnisasi dalam komunikasi.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
2.1 KOMUNIKASI
Komunikasi
atau dalam bahasa Inggris disebut Communication
berasal dari bahasa Latin communicatio,
dan bersumber dari kata communis
yang artinya "membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua
orang atau lebih". Dalam pengertian secara khusus mengenai komunikasi itu
sendiri menurut Hovland Komunikasi adalah “proses mengubah perilaku orang
lain”. Banyak ahli di dunia juga memberikan sumbangan pemikiran tentang
komunikasi. Menurut Harorl D. Lasswell, Komunikasi pada dasarnya merupakan
suatu proses yg menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada
siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa.
Sedangkan menurut Edward Depari (Widjaja,2000) menyatakan bahwa, “Komunikasi
adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang disampaikan melalui
lambang-lambang tertentu, mengandung arti, dilakukan oleh penyampai pesan
ditunjukkan kepada penerima pesan dengan maksud mencapai kebersamaan (Commons).
Menurut Tappen (1995) mendefinisikan
komunikasi sebagai suatu pertukaran pikiran, perasaan, pendapat dan pemberian
nasihat yang terjadi antara dua orang atau lebih yang bekerjasama. Komunikasi
juga merupakan suatu seni untuk dapat menyusun dan menghantarkan suatu pesan
dengan cara yang gampang sehingga orang lain dapat mengerti dan menerima.
Dari beberapa defenisi diatas secara umum dapat disimpulkan bahwa
komunikasi merupakan proses pengiriman atau pertukaran pesan (stimulus, signal,
simbol atau informasi) baik dalam bentuk verbal maupun non-verbal dari pengirim
kepada komunikan) dengan tujuan adanya perubahan, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik dan
behaviora.
2.2 ORGANISASI
Organisasi pada dasarnya
digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama
secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan
terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode,
lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara
efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Stoner mengatakan
bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana
orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama. Sedangkan James D. Mooney mengemukakan bahwa
organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan
bersama..
Stephen P. Robbins
menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah
batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif
terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
Lalu Prof Dr. Sondang P.
Siagian, mendefinisikan bahwa organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara
dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat
dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang
mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang /
sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.
Dari beberapa pengertian
tentang organisasi diatas dapat disimpulkan bahwa, organisasi adalah suatu
kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
Komunikasi adalah Suatu
proses penyampaian pesan atau informasi dari suatu pihak ke pihak yang lain
dengan tujuan tercapai persepsi atau pengertian yang sama. Komunikasi dalam
organisasi sangat penting karena dengan adanya komunikasi maka seseorang bisa
berhubungan dengan orang lain dan saling bertukar pikiran yang bisa menambah
wawasan seseorang dalam bekerja atau menjalani kehidupan sehari-hari. Maka
untuk membina hubungan kerja antar pegawai maupun antar atasan bawahan perlulah
membicarakan komunikasi secara lebih terperinci.
Dalam menyalurkan solusi
dan ide melalui komunikasi harus ada si pengirim berita (sender) maupun si penerima
berita (receiver). Solusi-solusi
yang diberikan pun tidak diambil seenaknya saja, tetapi ada penyaringan dan
seleksi, manakah solusi yang terbaik yang akan diambil, dan yang akan
dilaksanakan oleh organisasi tersebut agar mencapai tujuan, serta visi, misi
suatu organisasi.
3.2 SIFAT ORGANISASI
Komunikasi organisasi
merupakan sebuah sistem yang dibangun sebuah kelompok yang bekerjasama dan
memiliki tujuan yang sama. Komunikasi itu bersifat timbal balik dan baik
langsung maupun tidak langsung. Komunikasi organisasi bersifat berjenjang
kepangkatan dan terikat pada pembagian tugas.
3.3 TUJUAN KOMUNIKASI
Secara umum komunikasi memiliki
tujuan, yaitu:
1.
Supaya
pesan yang disampaikan komunikator dapat dimengerti oleh komunikan.
2.
Memahami
orang lain.
3.
Supaya
gagasan dapat diterima orang lain.
4.
Menggerakkan
orang lain untuk melakukan sesuatu. .
Secara singkat dapat dikatakan bahwa tujuan komunikasi adalah
mengharapkan pengertian, dukungan, gagasan, dan tindakan komunikator dapat
diterima oleh orang lain (Komunikan).
Menurut Hewitt ( 1981 ) , tujuan komunikasi
dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.
Mendalami atau mengajarkan sesuatu.
2.
Mempengaruhi perilaku seseorang Mengungkapkan
perasaan.
3.
Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku
orang lain.
4.
Berhubungan dengan orang lain.
5.
Menyelesaian suatu permasalahan atau
persoalan.
6.
Mencapai suatu tujuan.
7.
Menurunkan ketegangan dan menyelesaikan
konflik.
8.
Menstimulasi minat pada diri sendiri atau
orng lain.
Secara khusus komunikasi
bertujuan untuk :
1.
Menetapkan dan menyebarluaskan tujuan
perusahaan
2.
Menyusun rencana untuk menyelesaiakan
tujuan
3.
Mengorganisasi SDM serta sumber daya lainnya
secara efekti dan efisisen.
4.
Menyeleksi , mengembangkan dan menilai
anggota organisasi.
5.
Memimpin , mengarahkan , memotivasi dan
menciptakan iklim yang memunculkan keinginan untuk memberikan kontribusi, dan
6.
Mengendalikan prestasi.
3.4
KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Komunikasi lintas budaya merupakan bentuk komunikasi yang
bertujuan untuk saling berbagi informasi di berbagai budaya dan kelompok
sosial. Hal ini digunakan untuk menggambarkan berbagai proses komunikasi dan
masalah-masalah yang secara alami muncul dalam suatu organisasi atau konteks
sosial yang terdiri dari individu-individu dari berbagai agama, sosial, etnis,
dan latar belakang pendidikan. Komunikasi lintas budaya secara sinonim
kadang kadang digunakan dengan komunikasi antar-budaya.
Dalam hal ini
berusaha untuk memahami bagaimana orang-orang dari negara dan tindakan budaya yang berbeda, berkomunikasi dan memahami dunia
di sekitar mereka. Banyak orang di komunikasi bisnis lintas budaya yang
berpendapat bahwa budaya menentukan bagaimana orang menyandi pesan, apa yang
sedang mereka pilih untuk transmisi mereka, dan cara pesan ditafsirkan.
Berkenaan
dengan komunikasi lintas budaya yang tepat, dengan mempelajari situasi di mana
orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda saling berinteraksi. Selain bahasa,
komunikasi lintas budaya berfokus pada atribut sosial, pola pikir, dan budaya
dari kelompok-kelompok yang berbeda dari orang-orang. Hal ini juga melibatkan
pemahaman budaya yang berbeda, bahasa, dan adat istiadat orang-orang dari
negara-negara lain.
Komunikasi
lintas budaya berperan dalam ilmu-ilmu sosial seperti antropologi, studi
budaya, linguistik, psikologi dan ilmu komunikasi. Komunikasi lintas budaya ini
juga disebut sebagai dasar untuk bisnis internasional. Ada beberapa penyedia
layanan dari lintas-budaya yang dapat membantu pengembangan keterampilan
komunikasi lintas budaya itu sendiri. Penelitian ini merupakan bagian utama
dari perkembangan ketrampilan dari komunikasi lintas budaya.
Akulturasi dan penyesuaian
1.
Akulturasi komunikasi
Teori ini mencoba untuk
menggambarkan dimana "adaptasi antar budaya sebagai upaya
kolaboratif orang asing dan penerimaan lingkungan terlibat dalam upaya
bersama.
2.
Kegelisahan / ketidakpastian
Ketika orang asing
berkomunikasi dengan orang lokal, mereka mengalami ketidakpastian dan
kecemasan. Orang asing perlu untuk mengelola ketidakpastian serta kecemasan
mereka dalam rangka untuk dapat secara efektif berkomunikasi dengan orang
lokal dan kemudian mencoba untuk mengembangkan prediksi-prediksi akurat dan
penjelasan-penjelasan untuk perilaku orang-orang lokal.
Asimilasi dan adaptasi
adalah hasil yang tidak permanen dari proses adopsi; sebaliknya, mereka adalah
hasil sementara dari proses komunikasi antara orang lokal dan imigran.
"Keterasingan atau asimilasi dalam kelompok atau individu, adalah hasil
dari hubungan antara perilaku menyimpang dan lalai dalam komunikasi.
Komunikasi bisnis antar
budaya sangat membantu dalam membangun kecerdasan budaya melalui pembinaan dan
pelatihan dalam komunikasi antar budaya, antar-budaya negosiasi, multikultural
resolusi konflik, layanan pelanggan, bisnis, dan komunikasi organisasi.
Pemahaman antar budaya tidak hanya untuk ekspatriat yang masuk. Pemahaman antar
budaya dimulai dengan orang-orang yang bertanggung jawab untuk proyek dan
mencapai orang-orang di dalam menyampaikan layanan, atau konten. Kemampuan
untuk berkomunikasi, bernegosiasi dan bekerja secara efektif dengan orang-orang
dari budaya lain sangat penting untuk bisnis internasional.
Masalah yang
akan dihadapi di komunikasi lintas budaya
1. Kompetensi
lintas budaya
Komunikasi
lintas budaya kompeten ketika ia menyelesaikan tujuan dengan cara yang sesuai
dengan konteks dan hubungan. Komunikasi lintas budaya menjadi kebutuhan untuk
menjembatani dikotomi antara kesesuaian dan efektivitas yang tepat pada sarana
komunikasi lintas budaya dan mengarah ke 15% penurunan miskomunikasi.
2.
Kesesuaian. Menghargai aturan-aturan, norma-norma, dan harapan dari hubungan tidak
dilanggar secara signifikan
3.
Efektivitas. Menghargai tujuan atau imbalan (relatif terhadap biaya dan alternatif)
yang dicapai.
3.5 JENIS-JENIS KOMUNIKASI
1.
Komunikasi berdasarkan Penyampaian
Pada umumnya setiap orang
dapat berkomunikasi satu sama lain karena manusia tidak hanya makhluk individu
tetapi juga makhluk sosial yang selalu mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi
dengan sesamanya. Namun tidak semua orang terampil berkomunikasi, oleh sebab
itu dibutuhkan beberapa cara dalam menyampaikan informasi.
Berdasarkan cara
penyampaian informasi dapat dibedakan menjadi 2 ( dua ) yaitu :
a. Komunikasi
verbal ( Lisan )
1.
Yang terjadi secara langsung serta tidak
dibatasi oleh jarak , dimana kedua belah pihak dapat bertatap muka. Contohnya
dialog dua orang.
2.
Yang terjadi secara tidak langsung akibat
dibatasi oleh jarak. contohnya komunikasi lewat telepon.
b. Komunikasi
nonverbal ( Tertulis )
- Naskah , yang biasanya digunakan untuk menyampaikan
kabar yang bersifat kompleks.
- Gambar dan foto akibat tidak bisa dilukiskan dengan
kata-kata atau kalimat.
2.
Komunikasi berdasarkan Prilaku
Komunikasi bedasarkan prilaku dapat dibedakan
menjadi :
- Komunikasi Formal , yaitu komunikasi yang
terjadi diantara organisasi atau perusahaan yang tata caranya sudah diatur
dalam struktur organisasinya. Contohnya seminar.
- Komunikasi Informal , yaitu komunikasi yang
terjadi pada sebuah organisasi atau perusahaan yang tidak ditentukan dalam
struktur organisasi serta tidak mendapat kesaksian resmi yang mungkin
tidak berpengaruh kepada kepentingan organisasi atau perusahaan. Contohnya
kabar burung , desas-desus, dan sebagainya.
- Komunikasi Nonformal , yaitu komunikasi yang
terjadi antara komunikasi yang bersifat formal dan informal , yaitu
komunikasi yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas pekerjaan organisasi
atau perusahaan dengan kegiatan yang bersifat pribadi anggota organisasi
atau perusahaan tersebut. Contohnya rapat mengenai ulang tahun perusahaan.
3. Komunikasi berdasarkan kelangsungannya
Berdasarkan
kelangsungannya, komunikasi dibedakan menjadi:
a. Komunikasi langsung yaitu proses komunikasi yang
dilakukan secara langsung tanpa bantuan perantara orang ketiga atau media
komunikasi yang ada dan tidak
b. Komunikasi tidak langsung yaitu proses komunikasi
dengan batuan pihak ketiga atau batuan alat-alat media komunikasi.
4. Komunikasi berdasarkan maksud
Komunikasi
berdasarkan maksud terdiri dari:
- Berpidato
- Member ceramah
- Wawancara
- Memberikan intruksi atau tugas
Dengan demikian
jelas bahwa inisiatif komunikator dan kemampuan komunikator menjadi hal penentu
kesuksesan proses komunikasi.
5. Komunikasi berdasarkan ruang lingkup
a. Komunikasi internal
Dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
1. Komunikasi vertical adalah komunikasi dalam bentuk
komunikasi pemimpin kepada anggota seperti teguran, perintah, pujian dan
sebagainya.
2. Komunikasi Horizontal adalah komunikasi yang
terjadi dalam runag lingkup organisasi diantara orang-orang yang memiliki
kedudukan yang sama.
3. Komunikasi diagonal adalah komunikasi yang terjadi
dalam runag lingkup organisasi diantara orang-orang yang memiliki kedudukan
yang tidak sama namun tidak dalam jalur vertical.
b. Komunikasi Eksternal
Komunikasi
yang terjadi antara organisasi atau perusahaan dengan pihak masyarakat yang ada
diluar organisasi atau perusahaan tersebut. Komunikasi eksternal yang
dimaksudkan untuk memperoleh pengertian, kepercayaan, batuan, dan kerjasama
dengan masyarakat. Komunikasi dengan pihak luar bisa terbentuk dengan melakukan
eksposisi, pameran, promosi, iklan di televise, dan sebagainya.
6. komunikasi berdasar jumlah yang berkomunikasi
komunikasi
berdasarkan jumlah dibedakan menjadi:
- Komunikasi Perseorangan
- Komunikasi kelompok
7. Komunikasi berdasarkan peranan individu
Dalam komunikasi
peranan individu sangat mempengaruhi proses komunikasi. Berikut adalah
macam-macam komunikasi berdasarkan peranan individu:
- Komunikasi antar individu dengan individu yang
lainnya yang terjadi secara formal maupun informal.
- Komunikasi antar individu dengan lingkungan
yang lebih luas.
- Komunikasi antar individu dengan kelompok.
8. Komunikasi berdasarkan jaringan kerja
Komunikasi
jaringan kerja dibedakan menjadi:
- Komunikasi jaringan kerja rantai merupakan komunikasi
yang melibatkan saluran hirarki organisasi dengan jaringan komando
sihingga mengikuti pola komunikasi formal.
- Komunikasi jarinagn lingkaran.
- Komunikasi jaringan bintang.
9. Komunikasi berdasarkan ajaran komunikasi
Komunikasi
berdasarkan ajaran komunikasi dibedakan:
1. Komunikasi satu arah yaitu komunikasi yang berjalan
satu pihak saja.
2. Komunikasi dua arah yaitu komunikasi yang bersifat
timbal balik.
3. Komunikasi ke atas yaitu komunikasi yang terjadi
antara pengikut dan pemimpin.
4. Komunikasi ke bawah yaitu komunikasi dari pempinan
terhadap pengikut.
5. Komunikasi ke samping yaitu komunikasi yang terjadi
diantara orang-orang yang memiliki kedudukan yang sejajar.
3.6 PROSES KOMUNIKASI

1.
Pengirim(Sender=Sumber) adalah seseorang yang mempunyai kebutuhan
atau informasi serta mempunyai kepentinga mengkomunikasikan kepada orang lain.
2.
Pengodean (Encoding) adalah pengirim mengkodean informasi yang
akan disampaikan ke dalam symbol atau isyarat.
3.
Pesan (Massage), pesan dapat dalam segala bentuk biasanya
dapat dirasakan atau dimengerti satu atau lebih dari indra penerima.
4.
Saluran (Chanel) adalah cara mentrasmisikan
pesan, misal kertas untuk surat, udara untuk kata-kata yang diucapkan.
5.
Penerima (Recaiver) adalah orang yang menafsirkan pesan
penerima, jika pesan tidak disampaikan kepada penerima maka komunikasi tidak
akan terjadi.
6.
Pendekodean (Decoding) adalah proses dimana penerima menafsirkan
pesan dan menterjemahkan menjadi informasi yang berarti baginya. Jika semakin
tepat penafsiran penerima terhadap pesan yang dimaksudkan oleh penerima, Maka
semakin efektif komunikasi yang terjadi.
7.
Umpan balik (Feedback) adalah pembalikan dari
proses komunikasi dimana reaksi kominikasi pengirim dinyatakan.
3.7 PEMROSESAN INFORMASI ELEKTRONIK DAN
TELEKOMUNIKASI
Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik. Pengertian Informasi
Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak
terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data
interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks,
telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau
perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang
yang mampu memahaminya.
Telekomunikasi
adalah teknik pengiriman atau penyampaian infomasi, dari suatu tempat ke
tempat lain. Dalam kaitannya dengan 'telekomunikasi' bentuk komunikasi
jarak jauh dapat dibedakan atas tiga macam:
1.
Komunikasi Satu Arah (Simplex). Dalam komunikasi satu arah (Simplex) pengirim dan penerima informasi tidak dapat menjalin
komunikasi yang berkesinambungan melalui media yang sama. Contoh :Pager, televisi,
dan radio.
2.
Komunikasi Dua Arah (Duplex). Dalam komunikasi dua arah (Duplex) pengirim dan penerima informasi dapat menjalin
komunikasi yang berkesinambungan melalui media yang sama. Contoh : Telepon
dan VOIP.
3.
Komunikasi Semi Dua Arah (Half Duplex). Dalam komunikasi semi
dua arah (Half Duplex)pengirim
dan penerima informsi berkomunikasi secara bergantian namun tetap
berkesinambungan. Contoh :Handy
Talkie, FAX,
dan Chat Room
Untuk bisa melakukan
telekomunikasi, ada beberapa komponen untuk mendukungnya yaitu :
1.
Informasi : merupakan data yang
dikirim/diterima seperti suara, gambar, file, tulisan
2.
Pengirim : mengubah informasi menjadi
sinyal listrik yang siap dikirim
3.
Media transmisi :
alat yang berfungsi mengirimkan dari pengirim kepada penerima. Karena dalam
jarak jauh, maka sinyal pengirim diubah lagi (dimodulasi)
dengan gelombang radio, kemudian diubah menjadi gelombang elektromagnetik dan
dipancarkan dengan alat bernama Antena,
agar dapat terkirim jarak jauh.
4.
Penerima : menerima sinyal elektromagnetik
kemudian digubah menjadi sinyal listrik, sinyal diubah kedalam informasi asli
sesuai dari pengirim, selanjutnya diproses hingga bisa dipahami oleh manusia
sesuai dengan yang dikirimkan.
Dalam mengubah
informasi menjadi sinyal listrik yang siap dikirim, ada dua cara pengiriman
yang dipakai.
5.
Pertama adalah sinyal analog, mengubah bentuk informasi ke sinyal
analog di mana sinyal berbentuk gelombang listrik yang kontinue (terus menerus)
kemudian dikirim oleh media transmisi.
6.
Kedua adalah sinyal digital, di mana setelah informasi diubah
menjadi sinyal analog kemudian diubah lagi menjadi sinyal yang terputus-putus
(discrete). Sinyal yang terputus-putus dikodekan dalam sinyal digital yaitu
sinyal "0" dan "1".
7.
Dalam
pengiriman sinyal melalui media transmisi, sinyal analog mudah terkena gangguan
terutama gangguan induksi dan cuaca, sehingga di sisi penerima sinyal tersebut
terdegradasi. Sementara untuk sinyal digital tahan terhadap gangguan induksi
dan cuaca, selama gangguan tidak melebih batasan yang diterima, sinyal masih
diterima dalam kualitas yang sama dengan pengiriman.
3.8 Jaringan Komunikasi
Jaringan
komunikasi adalah saluran yang digunakan untuk meneruskan pesan dari satu orng
ke orang lain. Jaringan ini dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, kelompok
kecil sesuai dengan sumberdaya yang dimilikinya akan mengembangkan pola
komunikasi yang menggabungkan beberapa struktur jarngan komunikasi. Jaringan
komunikasi ini kemudian merupakan sistim komunikasi umum yang akan digunakan
oleh kelompok dalam mengirimkan pesan dari satu orang keorang lainnya. Kedua,
jaringan komunikasi ini bias dipandang sebagai struktur yang diformalkan yang
diciptakan oleh organisasi sebagai sarana komunikasi organisasi.
a.
Jaringan
Komunikasi Formal
Jaringan komunikasi formal adalah pesan yang mengalir
melalui jalan resmi yang ditentukan oleh hierarki resmi atau organisasi atau
oleh fungsi pekerjaan. Pesan dalam jaringan komunikasi formal biasanya mengalir
dari atas ke bawah atau dari bawah keatas atau dari tingkat yang sama atau secara
horizontal. Ada tiga bentuk utama dari arus pesan dalam jaringan komunikasi
formal yang mengikuti garis komunikasi seperti yang digambarkan dalam struktur
organisasi yaitu :
1.
“Downward
Communication” atau komunikasi kepada bawahan.
2.
“Upward
Communication” atau komunikasi kepada atasan.
3.
“Horizontal
Communication” atau komunikasi horizontal.
1.
Komunikasi
Kebawah
Komunikasi kebawah menunjukan arus pesan yang mengalir
dari para atasan atau para pimpinan kepada bawahannya. Kebanyakan komunikasi
kebawah digunakan untuk menyampaikan pesan pesan yang biasanya berkenaan dengan
tugas tugas dan pemeliharaan. Pesan tersebut biasanya berhubungan dengan
pengarahan, tujuan, untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi
ketakutan dan kecurigaan yang timbul karena salah informasi, mencegah
kesalahpahaman karena kurang informasi dan mempersiapkan anggota organisasi
untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.
2.
Komunikasi
keatas
Yang dimaksud dengan komunikasi ke atas adalah pesan yang
mengalir dari bawahan kepada atasan atau dari tingkat yang lebih rendah kepada
tingkat yang lebih tinggi. Semua karyawan dalam suatu organisasi kecuali yang
berada pada tingkatan yang paling atas mungkin berkomunikasi ke atas. Tujuan
dari komunikasi ini adalah untuk memberikan balikan, memberikan saran dan
mengajukan pertanyaan. Komunikasi ini mempunyai efek pada penyempurnaan moral
dan sikap karyawan, tipe pesan adalah integrasi dan pembaruan.
3.
Kominikasi
Horizontal
Komunikasi horizontal adalah pertukaran pesan di antara
orang orang yang sama tingkatan otoritasnya di dalam organisasi. Pesan yang
mengalir menurut fungsi dalam organisasi diarahkan secara horizontal. Pesan ini
biasanya berhubungan dengan tugas tugas atau tujuan kemanusiaan, seperti
koordinasi, pemecahan masalah, penyelesaian konflik dan saling memberikan
informasi.
4.
Jaringan
Komunikasi Informal
Jaringan komunikasi informal adalah Informasi yang
mengalir ke atas ke bawah ataupun secara horizontal. Tanpa memperhatikan
hubungan posisi, kalaupun ada mungkin sedikit. Karena komunikasi informal ini
menyebabkan informasi pribadi muncul dari interaksi di antara orang orang dan
mengalir keseluruh organisasi tanpa dapat diperkirakan.
Jaringan komunikasi lebih dikenal dengan desas desus
(grapevine) atau kabar angin. Informasi yang mengalir dalam jaringan grapevine
ini, kelihatannya berubah ubah dan tersembunyi. Dalam istilah komunikasi
grapevine dikatakan sebagai metode untuk menyampaikan rahasia dari orang ke
orang, yang tidak dapat diperoleh melalui jaringan komunikasi formal. Komunikasi
informal cenderung berisi laporan rahasia mengenai orang dan kejadia kejadian
yang tidak mengalir secara resmi. Informasi yang diperoleh dari desas desus
adalah yang berkenaan dengan apa yang didengar atau apa yang dikatakan orang
dan bukan apa yang diumumkan oleh orang yang berkuasa.
3.9 JARINGAN KELOMPOK KECIL
Di dalam organissi juga
sering di temui adanya komunikasi dalam kelompok-kelompok kecil,seperti dalam
rapat-rapat,konferensi dan komunikasi dalam kelompok kerja.Menurut Tillman
kelompok adalah bagian integral dari semua organisasi rata-rata anggota
pimpinan tingkat menengah dan atas menghabiskan seperempat atau sepertiga dari
waktu kerja mereka sehari-hari untuk berdiskusi.
1.
Pengertian Komunikasi Kelompok Kecil
Menurut shaw kelompok kecil adalah suatu kumpulan individu yang dapat
mempengaruhi satu sama lain ,memperoleh beberapa kepuasan satu sama lain
,berinteraksi untuk beberapa tujuan ,mengambil peranan terikat satu sama lain
dan berkomunikasi tatap muka.
2.
Tujuan Komunikasi Kelompok Kecil
Tujuan ini di bagi menjadi dua kategori yaitu untuk tujuan personal dan
tujuan yang berhubungan dengan tugas.
a.
Tujuan personal
Alasan orang untuk mengikuti kelompok dapat di bedakan
empat kategori utama yaitu untuk hubungan sosial,penyaluran,kelompok terapi dan
belajar.
b.
Tujuan yang berhubungan dengan pekerjaan
Komunikasi kelompok kecil sering di gunakan untuk
menyelesaikan dua tugas umum yaitu pembuatan keputusan dan pemecahan masalah.
3.Kelompok kecil sebagai satu system
Masukan. Merupakan materi
mentah dalam kelompok kecil seperti orang informasi yang di gunakan kelompok
untuk berinteraksi orang atau anggota kelompok adalah masukan karena tiap orang
dalam kelompok membawa kualitas tertentu seperti kepribadian ,umum.kesehatan.pengetahuan,sikap,nilai,dan
kemampuan memecahkan masalah.seperti kita ketahui system bersifat terbuka atau
tertutup tergantung pada tingkat komunikasi dengan lingkunganya.
4.Karakteristik Kelompok Kecil
a.
Mempermudah pertemuan ramah tanah.bukti
menunjukan bahwa bila orang datang bersama-sama mereka cenderung untuk
berlomba.perlomban itu mempunyai tipe ,tidak ada yang menang atau yang kalah
tetapi mempunyai konotasi yang sama.
b.
Personality kelompok.bila sekelompok orang
datang bersama mereka membentuk identitas mereka sendiri yang menjadikan
personaliti kelompok.
c.
Kekompakan yaitu daya tarikan
d.
Komitmen terhadap tugas.aktivitas individu
lainnya dalam kelompok yand dekat hubunganya dengan komitmen adalah motivsi.
e.
Besarnya kelompok.
f.
Norma kelompok.norma kelompok adalah aturan
dan pedoman yang di gunakan oleh kelompok itu sendiri maupun beberapa faktor
eksternal di luar kelompok.
g.
Saling tergantung satu sama
lain.karakteristik yang paling penting adalah anggota kelompok tergantung satu
sama lain.untuk beberapa tingkatan tertentu.
5.Variabel Kunci Kelompok Kecil
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi kelompok kecil di
antaranya adalah variabel yang berhubungan dengan input kelompok dan proes transformasi kelompok.beberapa di
antara faktor kunci tersebut akan di bicarakan pada bagian berikut ini.
a.
peranan berdasarkan fungsi
Para peneliti kelompok tang
dinamis mengidentifikasikan dua peranan utama dari anggota kelompok yaiyu
peranan tugas dan peranan untuk pemeliharaan.
Brune dan Sheats merinci tugas dalam
komunikasi kelompk yang berkenaan dengan tugas-tugas dan pemeliharaan.
b.
TINGKAH LAKU TUGAS
1.
Mengambil inisiatif seperti menentukan apakah
masalah yang akan di bahas menentukan aturan dalam komunikasi kelompok dan
mengembangkan ide.
2.
Memberikan dan mencarikan informasi misalnya
bertanya atau memberikan pendapat
3.
Mencari dan memberikan pendapat seperti
bertanya dan memberikan pendapat
4.
Mengelaborasi dan menjelaskan seperti
memberikan informasi tambahan tentang saran dan ide tertentu.
5.
Orientasi dan ringkasan seperti meninjau
kembali pokok-pokok penting dalam usaha memberikan pengarahan atau bimbingan
dalam diskusi
6.
Mentes konsesus misalnya mencek apakah
kelompok sudah siap untuk membuat keputusan
c. TINGKAH
LAKU PEMELIHARAAN
1.
Mengharmoniskan kelompok seperti
menyelesaikan perbedaan dan mengurangi ketegangan komunikasi kelomopok,
kadang-kadang dengan membuat humor.
2.
Mencari jalan tengah,seperti menawarkan jalan
tengah pada isu atau perubahanposisi
3.
Memberikan sokongan .dan semangat seperi menghargai ,setuju,menerima kontribusi yang lain.
4.
Menjaga lalu lintas komunikasi seperti
,mempermudah interaksi di antara anggota.
5.
Menentukan sandar dan tes seperti pengecekan
kemajuan kelompok,perasaan orang,norma kelompok,kesukaran jalannya komunikasi
kelompok.
3.10 JARINGAN KOMUNIKASI ORGANISASI
Setiap sistem komunikasi organisasi adalah
jumlah dari kelompok subsistem, akan bermanfaat untuk mengetahui sesuatu
tentang empat subsistem komunikasi utama. Jaringan komunikasi fungsional
organisasi adalah: Jaringan regulasi, jaringan inovatif, integratif
(maintenance) jaringan, dan-informatif-edukatif jaringan. Masing-masing
jaringan ini terkait dengan satu atau lebih tujuan organisasi (yaitu,
kesesuaian, addictiveness, moral, dan pelembagaan).
Jaringan komunikasi regulatif berkaitan
dengan tujuan organisasi mengamankan kesesuaian dengan rencana. untuk menjamin
produktivitas. Hal ini berkaitan dengan kontrol. Pesanan, dan bentuk lain dari
arah dan umpan balik antara bawahan dan atasan dalam kegiatan tugas terkait.
Contoh komunikasi regulatif adalah pernyataan kebijakan, prosedur, dan aturan.
Jaringan komunikasi yang inovatif berusaha
untuk menjamin kemampuan beradaptasi
suatu
organisasi dengan variatifnya
pengaruh internal dan eksternal (teknologi, sosiologis, pendidikan, Ekonomi, politik) dan sebagainya memberikan
kontribusi untuk terus produktif dan
efektif. Hal ini berkaitan dengan
pemecahan masalah, adaptasi terhadap perubahan, dan strategi dan pelaksanaan
pengolahan ide baru. Beberapa contoh adalah sistem saran dan pertemuan
pemecahan masalah partisipatif.
Jaringan
komunikasi Integratif (maintenance) adalah berhubungan dengan perasaan untuk
diri, rekan, dan pekerjaan,
dan secara langsung berkaitan dengan tujuan organisasi semangat kerja karyawan.
Hal ini secara tidak langsung terkait dengan pelembagaan, yang melibatkan
penerimaan organisasi dengan nonanggota seperti masyarakat dan pemerintah unit.
Hal ini dimanifestasikan dengan perilaku yang mendukung dan mempertahankan diri
yang berkisar dari desas-desus dan status simbol informal untuk penghargaan dan
unsur-unsur realisasi diri dan manusia-pemenuhan sangat terlihat. Beberapa
contoh adalah selentingan, pujian dari atasan, dan promosi.
Alat bantu jaringan komunikasi
informatif-edukatif dalam mengamankan tujuan organisasi kesesuaian, kemampuan
beradaptasi, moral, dan pelembagaan, dan dengan demikian bekerja untuk
produktivitas dan efektivitas tingkat yang lebih tinggi. Hal ini berkaitan
dengan mendapatkan dan memberikan informasi tidak terkait dengan jaringan
komunikasi lainnya, dan termasuk instruksi yang memungkinkan bawahan untuk
benar melaksanakan persyaratan kerja, misalnya pemberitahuan papan buletin,
publikasi perusahaan, dan kegiatan pelatihan.
Masing-masing jaringan ini terdiri dari
kebijakan komunikasi tertentu, dan tujuan organisasi menentukan tujuan jaringan
komunikasi khusus. Dengan demikian, seperti yang kita lihat di bagian
sebelumnya. manajer yang membangun jaringan informasi yang dikelola akan lebih
mampu.
3.11 MENGOLAH
KOMUNIKASI
Proses
pengelolaan pesan komunikasi
1.
Proses
Pengelolaan Pesan Proses pengelolaan sumberdaya komunikasi yang ditujukan untuk
meningkatkan kualitas dan efektivitas pertukaran pesan yang terjadi dalam
berbagai konteks komunikasi (individual, organisasional, govermental, sosial,
atau internasional).Mengacu pada pengertian tentang bagaimana orang mengelola
proses komunikasi melalui konstruksi makna tentang hubungan mereka dengan orang
lain dalam situasi yang beragam. Memberikan arah bagaimana orang bekerja dalam
berbagai konteks dapat berkomunikasi secara efektif, efisien dan produktif. Ada
2 model dalam penyusunan pesan, yakni penyusunan pesan yang bersifat informatif
dan penyusunan bersifat persuasif. Pengelolaan Informatif Model penyusunan
pesan yang bersifat informatif lebih banyak ditujukan pada perluasan wawasan
dan kesadaran khalayak. Prosesnya lebih banyak bersifat difusi, sederhana,
jelas dan tidak banyak menggunakan jargon yang kurang populer di kalangan
masyarakat. Model pemrosesan informatif ditekankan pada pengambilan,
penguasaan, dan pemrosesan informasi.Pemrosesan Informasi merujuk pada cara
mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan
masalah, menemukan konsep, dan menggunakan simbol verbal dan visual. Ada 4 macam
penyusunan pesan bersifat informatif: 1. Space Order Penyusunan pesan yang
melihat kondisi tempat atau ruang, seperti: Internasional, Nasional dan Daerah.
2. Time Order Penyusunan pesan berdasarkan waktu atau periode yang disusun
secara kronologis. 3. Deductive Order
2.
Penyusunan pesan mulai dari hal-hal yang
bersifat umum kepada yang khusus, misalnya: Penyusunan GBHN 4. Inductive Order
Kebalikan dari Deductive Order, Penyusunan pesan yang dimulai dari hal-hal
khusus kepada yang bersifat umum. Model penyusunan pesan informatif biasanya
banyak dilakukan dalam penulisan berita dan artikel oleh para wartawan dengan
memakai model piramida terbalik. Dalam penulisan berita model straight news,
penyampaian pesan bergerak dari yang sangat penting kepada yang kurang penting
dengan menjawab 5W+1H. 2. Pengelolaan pesan bersifat persuasif Model
pengelolaan pesan yang bersifat persuasif memiliki tujuan untuk mengubah
persepsi, sikap dan pendapat khalayak. Oleh karena itu penyusunan pesan yang
bersifat persuasif mrmiliki sebuah proposisi. Proposisi disini ialah apa yang
dikehendaki sember terhadap penerima sebagai hasil pesan yang disampaikannya,
artinya setiap pesan yang dibuat diinginkan adanya peruibahan. Ada beberapa
cara yang dapat digunakan dalam penyusunan pesan yang memakai teknik persuasi,
antara lain: a. Fear Appeal Metode penyusunan atau penyampaian pesan dengan
menimbulkan rasa ketakutan pada khalayak b. Emotional Appeal Cara penyusunan
atau penyampaian pesan dengan berusaha menggugah emosional khalayak. Bentuk lain
dari emotional appeal ialah propoganda. c. Reward Appeal Cara penyusunan atau
penyampaian pesan dengan menawarkan janji-janji pada khalayak. Mengenai metode
reward appeal, Heilman dan Garner (1975) dalam risetnya menemukan bahwa
khalayak cenderung menerima pesan atau ide yang penuh janji-janji daripada
pesan yang disertai ancaman.
3.
Motivational Appeal Teknik penyusunan atau
penyampaian pesan yang dibuat bukan karena janji-janji, tetapi disusun untuk
menumbuhkan internal psikologis khalayak sehingga mereka dapat mengikuti
pesan-pesan itu. e. Humorious Appeal Teknik penyusunan atau penyampaian pesan
yang disertai dengan gaya humor, sehingga dalam penerimaan pesan khalayak tidak
merasa jenuh. Pesan yang disertai humor mudah diterima, enak dan menyegarkan tetapi
diusahakan jangan sampai terjadi humor yang lebih dominan daripada materi yang
ingin disampaikan.
3.12 CARA MENINGKATKAN KOMUNIKASI ORGANISASI
1.
Pentingnya Komunikasi yang Efektif dari
Seorang Pemimpin Organisasi
Kepemimpinan yang berhasil mempengaruhi orang lain sangat ditentukan
oleh keterampilan dan kemampuan menjalankan fungi komunikasi secara baik
karenanya komunikasi yang baik dan menjadi efektif akan ditentukan pula oleh
kepercayaan dan keyakinan seorang pemimpin dalam memimpin untuk mempengaruhi
bawahan. Keyakinan dan kepercayaan hanya dapat terbentuk apabila pemimpin
menyadari suatu lingkungan yang harmonis antara pimpinan dengan para bawahannya
yang dapat benar-benar berkomunikasi dengan baik yang sejalan dengan makna
fungsi komunikasi.
Komunikasi yang efektif dari seorang pemimpin sangatlah penting karena
akan mempengaruhi kinerja anggota dalam mencapai tujuan organisasi, hal ini
dikarenakan tiga alasan utama, yaitu:
a.
Komunikasi menyediakan saluran umum untuk
proses manajemen, yaitu merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan
mengendalikan.
b.
Keterampilan komunikasi yang efektif dapat
membuat pemimpin menggunakan berbagai bakat yang tersedia dalam dunia
multibudaya dari organisasi.
c.
Kenyataan bahwa pemimpin banyak menghabiskan
waktunya untuk berkomunikasi. Jarang sekali kita menjumpai pemimpin sendirian
di mejanya berpikir, membuat rencana, atau mempertimbangkan berbagai
alternatif.
d.
Pemimpin merupakan ujung tombak pencapaian
visi dan misi suatu organisasi. Jika pemimpin tidak dapat berkomunikasi dengan
efektif maka akan terjadi kekacauan.
2. Strategi Meningkatkan Komunikasi yang
Efektif
Komunikasi efektif dapat dilakukan oleh setiap orang. Jika ada yang
merasa tidak mampu, hal ini lebih karena masalah kebiasaan saja. Melatih orang
berkomunikasi sederhana secara efektif bisa dilakukan dengan langsung pada
prakteknya. Walaupun sepintas sepele, hal ini dapat membantu setiap individu
untuk mencapai sebuah kesuksesan baik di dalam kehidupan pribadinya maupun
dalam kehidupan karirnya.
Untuk dapat melakukan komunikasi efektif,
sebuah sumber menyatakan ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan yaitu
menganalisa, menyalahkan, menghakimi, menasehati, dan menginterogasi.
Yang tak kalah pentingnya dalam melakukan komunikasi efektif adalah
keterampilan mendengarkan dan bertanya. Dalam proses berkomunikasi, seseorang
harus mampu mendengarkan dan memahaminya dengan baik. Kemudian mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang saling memiliki keterkaitan dan mengarah pada suatu
solusi. Sehingga tujuan utama dalam komunikasi yang efektif adalah sebuah win-win solution. Tak ada satupun
orang yang mau disalahkan. Inilah konsep dasar dari komunikasi efektif.
Tak elok rasanya bila dalam berkomunikasi, satu pihak terus-terusan
berbicara, sementara pihak lainnya terus-terusan mendengarkan. Sehingga tidak
terjadi komunikasi dua arah. Komunikasi efektif atau dalam beberapa kasus
sering diartikan sebagai diplomasi, perlu dilakukan untuk dapat membangun
sebuah kesamaan keinginan dari sebuah informasi yang disajikan. Sehingga tujuan
yang ingin diraih dapat dicapai secara bersama-sama.
Ketika anda ingin berkomunikasi dengan orang lain, lakukanlah dengan
efektif. Dalam kondisi apapun disarankan agar anda selalu dapat melakukan
komunikasi secara efektif. Contoh sederhana, lihatlah orang yang akan diajak
bicara sudah siap atau belum menerima informasi atau pertanyaan dari kita.
Kalau belum, tunggulah dulu sampai benar-benar dia siap. Dengan berkomunikasi efektif
kita dapat menunjukan kepribadian yang berkarakter positif dan membuka diri
untuk selalu tumbuh dan berkembang menuju kesuksesan secara bersama-sama.
Perbedaan antara komunikasi efektif dan tidak efektif dapat dilacak
sampai seberapa jauh pihak-pihak yang berkomunikasi menangani empat aspek
proses komunikasi:
1. Perbedaan persepsi
Ini adalah salah satu hambatan komunikasi yang umum dijumpai. Orang yang
mempunyai latar belakang pengetahuan dan pengalaman berbeda sering menerima
fenomena sama dari perspektif yang berbeda. Seandainya seorang supervisor baru
memuji seorang karyawan atas kerja yang efisisen dan bermutu tinggi. Supervisor
itu benar-benar menghargai usaha karyawan tadi dan pada saat yang sama ingin
mendorong karyawan yang lain untuk meniru contoh tersebut. Akan tetapi, orang
lain mungkin menganggap karyawan tadi membedakan diri untuk dipuji sebagai
tanda dia telah menjilat pimpinan. Mereka mungkin bereaksi dengan menggoda atau
menunjukkan permusuhan secara terbuka. Persepsi individu mengenai komunikasi
yang sama dapat berbeda secara radikal.
Cara untuk mengatasi perbedaan persepsi adalah pesan harus dijelaskan
sehingga dapat dipahami oleh penerima yang mempunyai pandangan dan pengalaman
berbeda. Kalau mungkin, kita harus mempelajari mengenai latar belakang mereka
yang akan berkomunikasi dengan kita.
2. Emosi
Reaksi emosional marah, cinta, mempertahankan pendapat, benci, cemburu,
takut, malu, dapat mempengaruhi cara kita memahami pesan orang lain dan cara
kita mempengaruhi orang lain dengan pesan kita sendiri.
Pendekatan terbaik untuk berhubungan dengan emosi adalah menerimanya
sebagai bagian dari proses komunikasi dan mencoba untuk memahaminya ketika
emosi menimbulkan masalah.
3. Ketidakkonsistenan antara komunikasi verbal
dan non-verbal
Banyak yang berpendapat bahwa bahasa lisan dan tertulis sebagai medium
utama komunikasi, tetapi pesan yang kita kirimkan dan kita terima amat
dipengaruhi oleh faktor nonverbal seperti gerakan tubuh, pakaian, jarak berdiri
antar orang yang berbicara, postur, gerakan anggota badan, ekspresi wajah,
gerakan mata, dan sentuhan badan. Bahkan pesan yang amat sederhana seperti
“Selamat pagi”, dapat di sampaikan dengan maksud berbeda-beda dengan komunikasi
nonverbal.
Kunci untuk menghilangkan ketidakkonsistenan dalam komunikasi adalah
mewaspadainya dan berjaga-jaga agar tidak mengirimkan pesan palsu. Komunikasi
nonverbal harus selaras dengan pesan verbal.
4. Kepercayaan
Seorang penerima mempercayai atau mencurigai suatu pesan pada umunya
merupakan fungsi kredibilitas dari pengririm dalam pikiran penerima.
Kredibilitas pengirim dipengaruhi oleh lingkungan dalam konteks dia
mengirirmkan pesan.
Pada umumnya, kredibilitasseorang pemimpin akan tinggi kalau dia
dianggap oleh orang lain berpengetahuan luas, dapat dipercaya, dan tulus
menyangkut kesejahteraan lain. Kredibilitas merupakan hasil dari proses jangka
panjang yang mana kejujuran seseorang, keadilan, dan maksud baik dikenal oleh
orang lain.
Seorang pemimpin dituntut untuk menguasai
komunikasi verbal secara efektif. Untuk itu maka sebaiknya menyadari
kelemahannya dan berusaha menutupi kekurangannya dengan mengupayakan diri
memperbaiki diri. Usaha yang dapat dilakukan adalah mempraktikkan kemahiran bicaranya di pantai dan berpidato di sana. Dia keluarkan
suaranya sekeras-kerasnya melawan suara ombak. Tentu saja, dengan seringnya
berlatih demikian, maka pada saat menghadapi audiens atau lawan bicara yang
sebenarnya dia tidak mendapat kesulitan lagi.
Usaha kedua yang dapat dilakukan adalah mengikuti training mengenai komunikasi.
Seperti disebutkan di atas, keterampilan dalam berkomunikasi secara efektif
dapat dipelajari dan dikuasai dengan latihan rutin dan berkesinambungan secara
terus menerus. Untuk itu, saat ini ada lembaga yang menyelenggarakan training,
khusus melatih pesertanya dalam keterampilan berkomunikasi efektif.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan suatu
komunikasi yang efektif.
1.
Ketahui mitra bicara (Audience)
Kita harus sangat
sadar dengan siapa kita bicara, apakah dengan orang tua, anak-anak, laki-laki
atau perempuan, status sosialnya seperti apa pangkat, jabatan dan semacamnya
petani, pengusaha, guru, kyai, dan lain-lain. Dengan mengetahui audience kita, kita harus cerdik
dalam memilih kata-kata yang digunakan dalam menyampaikan informasi atau buah
fikiran kita. Artinya, bahasa yang dipakai harus sesuai dengan bahasa yang
mudah dipahami oleh audience kita.
Berbicara dengan orang dewasa tentu akan sangat berbeda dengan berbicara kepada
ana-kanak.
Berbicara dengan
atasan tentu akan berbeda berbicara pada bawahan atau teman sederajat.
Pengetahuan mitra bicara kitapun harus diperhatikan. Informasi yang disampaikan
mungkin saja bukan hal yang baru bagi mitra kita, tetapi kalau penyampaiannya
dengan menggunakan jargon-jargon atau istilah-istilah yang tidak dipahami oleh
mitra, informasi atau gagasan yang kita sampaikan bisa saja tidak dapat
dipahami. Jadi, dengan memperhatikan mitra bicara kita, kita akan dapat menyesuaikan
diri dalam berkomunikasi dengannya.
2. Ketahui tujuan
Tujuan kita
berkomunikasi akan sangat menentukan cara kita menyampaikan informasi, tentu
komunikasi kita bersifat pengumuman. Tetapi bila kita bermaksud membeli atau
menjual barang komunikasi kita akan bersifat negosiasi. Lain pula cara kita
berkomunikasi apabila tujuan kita untuk menghibur, membujuk, atau sekedar
basa-basi.
3. Perhatikan Konteks
Konteks
disini bisa berarti keadaan atau lingkungan pada saat berkomunikasi. Pada saat
berkomunikasi, konteks sangat berperan dalam memperjelas informasi yang
disampaikan. Formalitas dalam konteks tertentu juga dapat mempengaruhi cara
berkomunikasi seseorang. Gaya komunikasi atasan dan bawahan di lingkungan dunia
kerja, bahkan komunikasi antar sesama atasan maupun sesama bawahan pasti
berbeda. Apabila orang-orang ini bertemu di luar kantor gaya komunikasi diantara mereka akan sangat lain
dengan gaya pada saat mereka berada di kantor. Mengirim bunga kepada orang yang
berulang tahun atau kepada orang yang kita kasihi, akan berbeda maknanya bila
disampaikan kepada orang yang sedang berduka. Bahkan jenis bunga yang
disampaikanpun membawa pesan atau kesan tersendiri.
4. Pelajari Kultur
Kultur
atau budaya, habit atau kebiasaan orang atau masyarakat juga perlu diperhatikan
dalam berkomunikasi.
5. Pahami Bahasa.
Bahasa menunjukkan bangsa artinya
bahasa dapat menjadi identitas suatu bangsa. Dengan memahami bahasa orang lain
berarti berusaha menghargai orang lain. Tetapi memahami bahasa di sini tidak
berarti harus memahami semua bahasa yang dipakai oleh mitra bicara kita. Yang
lebih penting adalah memahami gaya orang lain berbahasa. Untuk memperjelas
pesan yang hendak disampaikan dalam berkomunikasi, gunakanlah kalimat-kalimat
sederhana yang mudah dipahami. Kalimat panjang dan kompleks seringkali
mengaburkan makna. Kepiawaian dalam menggunakan kalimat-kalimat yang sederhana
dan tepat dalam berbahasa akan sangat mempengaruhi efektifitas komunikasi kita.
3.
Strategi Komunikasi Organisasi dari Pimpinan
ke Anggota (Downward Communication)
Gibson dalam Syasyikirana mengungkapkan bahwa dalam strategi komunikasi perlu
adanya rasa saling saling percaya yang diciptakan antara komunikator dan
komunikan. Kalau tidak ada unsur saling mempercayai, komunikasi tidak akan
berhasil. Tidak adanya rasa saling percaya akan menghambat komunikasi.
Sebelum melancarkan proses komunikasi, hal yang
harus dilakukan adalah mempelajari siapa yang akan menjadi sasaran komunikasi
pimpinan. Adapun hal-hal yang perlu diketahui dari komunikan adalah kerangka
referensi dan situasi serta kondisi mereka.
Tiap
individu memiliki karakter yang berbeda-beda oleh karena itu perlakuan saat
memberikan informasi atau pesan juga berbeda-beda. Hal tersebut berlaku bila
akan mengomunikasikan secara personal, namun bila secara serentak biasanya
diumumkan saat rapat mingguan setiap hari Sabtu atau saat rapat kecil yang
berbeda-beda setiap timnya.
Unsur
selanjutnya yang menjadi penting adalah bagaimana mengemas pesan atau instruksi
tersebut agar ditanggapi oleh komunikan. Pengemasan pesan akan mempengaruhi penerimaan pesan
itu sendiri oleh komunikan, dalam hal ini adalah anggota. Pada dasarnya sistem
komunikasi ke bawah mengandalkan berbagai jenis media cetak dan oral untuk
menyebarkan informasi. Beberapa contoh media tertulis menurut Luthans (2006)
berupa buku panduan organisasi, buku petunjuk, majalah, koran, dan surat yang
dikirim ke rumah atau dibagikan dalam pekerjaan, item papan pengumuman, poster,
dan display informasi; dan laporan standar, deskripsi prosedur, dan memo.
Informasi dari
pimpinan ke anggota dalam organisasi biasanya mengandalkan komunikasi secara
langsung dan tatap muka, biasanya dilakukan pada saat rapat mingguan dan rapat
kecil setiap tim. Komunikasi secara lisan secara langsung yang dilakukan
pimpinan dirasa sangat penting untuk dilakukan. Karena komunikasi lisan secara
tatap muka akan mempengaruhi sikap dan perilaku anggota.
Bentuk oral
communication yang biasa dilakukan berupa rapat dan koordinasi secara personal.
Setiap minggu rutin dilaksanakan rapat yang membahas mengenai banyak hal
termasuk evaluasi kinerja. Menciptakan suasana rapat yang santai, menurut
membuat pesan atau informasi yang mau disampaikan menjadi lebih efektif.
Agar tidak bosan dengan
rapat yang begitu-begitu saja, sesekali suasana rapat dirubah. Terkadang rapat
dapat dilakukan di luar kantor sambil makan atau bahkan dilakukan di salah satu
rumah anggota rapat. Selain untuk menjadikan pikiran fresh kembali, kekompakan
dan silaturahmi antar karyawan menjadi lebih erat.
Selain menggunakan
komunikasi oral atau lisan, sering dilakukan menggunakan metode komunikasi
tulisan yang juga di-mix dengan gambar. Sesuai dengan hasil penelitian Pace dan
Faules (2006) yang menunjukkan metode lisan diikuti tulisan yang paling
efektif.
Komunikasi yang
dilakukan dari pimpinan ke anggota, selain mengandalkan komunikasi langsung
juga mengandalkan media, baik elektronik, cetak, maupun majalah dinding untuk
mengkomunikasikan informasi yang ada. Namun, media digunakan sebagai pengulang
(redundancy/repeatation) dari komunikasi lisan yang telah dilakukan. Redundancy
(repeatation) adalah cara mempengaruhi komunikan dengan jalan mengulang-ulang
pesan kepada komunikan. Dengan teknik ini komunikan akan lebih memperhatikan
pesan itu daripada pesan yang tidak diulang.
Ada beberapa macam media yang dipakai untuk
mengkomunikasikan pesan dari pimpinan ke anggota. Yakni, job description, hand
book, map, papan pengumuman, surat tertulis, dan memo. Untuk mencapai
keseragaman, efesiensi dan efektivitas kerja sesuai yang diharapkan organisasi
dapat menggunakan media job description yang mengatur pembagian kerja
masing-masing karyawan yang meliputi wewenang dan tugas yang harus dikerjakan.
Selain itu, sebuah organisasi juga dapat
menyediakan handbook sebagai buku pedoman atau panduan bagi anggota. Selain itu
penggunaan map yang berisikan info-info penting mengenai tugas anggota. Oleh
karena itu kehilangan map sama saja kehilangan informasi penting. Selain
berfungsi sebagai media penyalur informasi-informasi penting, map juga
berfungsi untuk menciptakan suasana akrab. Di dalam map bisa berisikan
candaan-candaan lucu sebagai motivasi anggota organisasi, bahkan dapat juga
gosip-gosip terbaru di dalam organisasi tersebut.
Sebaiknya map dapat menarik perhatian karyawan.
Dari segi bahasa hingga layout juga dibuat semenarik mungkin. Wilbur Schramm mengemukakan apa yang disebut dengan Availability (mudahnya
diperoleh) dan Contrast (kontras) kedua hal ini
adalah menyangkut dengan penggunaan tanda-tanda komunikasi (sign of communication) dan penggunaan
medium (Arifin,
1994).
Metode tulisan yang digunakan dalam
menginformasikan pesan dapat juga berbentuk surat. Biasanya penyampaian pesan
dengan cara ini menyangkut persoalan kinerja individu atau bisa juga berupa
pemberitahuan sesuatu yang bersifat rahasia.
Pesan tertulis lainnya yang bersifat personal
adalah memo. Biasanya pimpinan akan membuat memo yang ditempelkan di meja
anggota yang diberikan instruksi. Isi memo biasanya bersifat individual yang
hanya berisikan instruksi pekerjaan satu orang saja, bukan bersifat umum.
Informasi yang bersifat umum biasanya ditempelkan di papan informasi dan map.
Selain
budaya yang ada di dalam organisasi, pimpinan juga tidak boleh melupakan budaya
eksternal yang sedang berkembang, termasuk perkembangan teknologi informasi.
Dewasa ini, budaya berkomunikasi sangat mengapresiasi komunikasi verbal yang
terintegrasi dengan teknologi informasi. Jejaring sosial merupakan teknologi
komunikasi terkini yang sudah melekat pada generasi muda. Penyampaian informasi tidak bisa lepas
menggunakan media sebagai sarana untuk menyebarkan informasi ke anggota.
Terlebih penggunaan jejaring sosial (twitter) dan fasilitas chat room seperti
Line, BBM, dan Whatsapp. Media elektronik berupa SMS, telepon hingga email,
jejaring sosial seperti twitter serta chat room di BBM dan line memang tidak
bisa ditinggalkan. Dengan menggunakan media-media tersebut proses komunikasi
dapat menjadi lebih mudah dan cepat.
4.
Strategi Komunikasi dari Anggota ke Pimpinan
(Upward Communication)
Cara
penyampaian pesan dari anggota ke pimpinan pun berbeda dengan cara penyampaian
pesan yang dilakukan pimpinan ke anggota. Bila, pimpinan menggunakan media
sebagai teknik redundancy atau pengulang dari informasi sebelumnya, anggota
justru jarang menggunakan media untuk berinteraksi dengan pimpinan. Kalaupun
ada itu juga untuk bertanya, bukan untuk mengulang informasi yang diberikan
anggota ke pimpinan.
Hal tersebut sesuai
dengan pernyataan Planty dan Machaver (Pace & Faules 2005) bahwa metode
yang paling efektif dari komunikasi ke atas adalah kontak tatap muka
sehari-hari dan percakapan di antara pemimpin dan anggota. Komunikasi tatap
muka yang dilakukan anggota paling sering terjadi pada saat rapat mingguan
maupun rapat tim. Rapat memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, baik dari
pimpinan ke anggota maupun anggota ke pimpinan.
Berdasarkan
media yang dipakai oleh anggota untuk mengkomunikasikan pesan ke pimpinan juga
tidak sebanyak seperti informasi yang diberikan pimpinan ke anggota. Sebab,
anggota lebih banyak menggunakan komunikasi oral secara tatap langsung.
Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan kesempatan anggota untuk
berkomunikasi melalui media, seperti line, wattsap, dan twitter,
Biasanya anggota organisasi jarang
menggunakan media untuk mengkomunikasikan sesuatu pada pimpinan. Sebagai
contoh, papan informasi yang ada sebenarnya bukan hanya diperuntukkan untuk
pimpinan saja, namun pihak anggota pun dapat ikut serta untuk menempelkan
informasi di sana. Namun sejauh ini hanya pihak pimpinan saja yang menuliskan
pesan atau informasi di papan informasi.
Selain itu, untuk teknik penyampaian
pesannya, anggota lebih sering menggunakan metode canalizing, yakni suatu cara yang
dilakukan oleh komunikator dengan mengetahui terlebih dahulu tentang
referensi/pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki komunikannya, kemudian
komunikator menyusun pesan dan metode yang sesuai dengan itu. Agar komunikan
dapat menerima pesan yang disampaikan komunikator dan kemudian perlahan-lahan
komunikator merubah pola pikir dan sikap komunikan pada arah yang dikehendaki
komunikator. Dengan merencanakan
pesan sebelum diutarakan ke pimpinan akan membawa dampak yang baik. Misalnya,
dalam mengkomunikasikan ide-ide.
Komunikasi ke atas
adalah feedback dari adanya komunikasi ke bawah. Dengan adanya komunikasi ke
atas pimpinan dapat memperkuat peralatan untuk merekam ide-ide dan bantuan dari
anggotanya. Hal ini membantu pimpinan memperoleh jawaban yang lebih baik
mengenai masalah-masalah mereka dan tanggung jawab mereka. Dengan terbukanya
komunikasi ke atas, pimpinan dapat membantu arus dan penerimaan komunikasi ke
bawah.
3.13 FAKTOR-FAKTOR ORAGNISASI DALAM KOMUNIKASI
1.
Credibility
(Keterpercayaan)
Proses
komunikasi sangat dipengaruhi oleh faktor kepercayaan. Dalam hal ini,
komunikasi terjadi karena antara komunikator dan komunikan ada hubungan saling
mempercayai dan saling membutuhkan. Apabila tidak ada sedikitpun rasa
kepercayaan maka komunikasi tidak akan berjalan lancar.
2.
Context
(Perhubungan)
Proses
komunikasi dipengaruhi oleh faktor perhubungan. Apabila tidak terjadi kontak
atau hubungan maka komunikasi tidak akan terjadi. Keberhasilan siatu komunikasi
berhubungan erat dengan situasi dan kondisi atau sering disebut dengan sikon
ketika komunikasi berlangsung. Sebagai contoh, misalnya keadaan disuatau tempat
sedang kacau maka komunikasi tidak akan terjadi.
3.
Content
(Kepuasan)
Pada dasarnya,
komunikasi harus menimbulkan rasa puas antara kedua belah pihak (komunikator
dan komunikan). Kepuasan akan dicapai apabila pesan atau informasi yang
disampaikan komunikator dapat diterima dan dimengerti dengan baik dan ada umpan
balik dari komunikan.
4.
Clarity
(Kejelasan)
Faktor
kejelasan sangat penting dalam proses komunikasi. Kejelasan itu meliputi
kejelasan berita, kejelasan tujuan yang akan dicapai, dan kejelasan kata-kata
yang dipergunakan, serta kejelasan dalam menggunakan bahasa tubuh.
5.
Continuity
and consistency (Kesinambungan dan Konsisten)
Komunikasi
akan berlangsung lancar jika terjadi kesinambungan dan konsisten hubungan antar
kedua belah pihak. Dalam hal semacam ini, komunikasi perlu dilakukan secara
terus menerus dan konsisten. Selain itu pesan atau informasi yang disampaikan
jangan saling bertentangan.
6.
Capability
of audience (Kemampuan komunikan)
Kemampuan
komunikan sangat menentukan dalam proses komunikasi. Dalam hal ini, penyampaian
pesan atau berita harus disesuakan dengan tingkat pengetahuan dan kemampuan
dari pihak komunikan. Oleh karena itu, Komunikator harus memperhatikan dan
menggunakan istilah-istilah seperti bahasa dan mimik yang sesuai dan mudah
dipahami oleh pendengar. Jangan sampai menggunakan istilah-istilah yang sukar
dimengerti komunikan.
7.
Channels
of distribution (Saluran pengiriman berita)
Saluran atau
sarana yang digunakan dalam menyampaikan pesan atau informasi sangatlah penting
dalam proses komunikasi. Sebaiknya menggunakan saluran atau media yang umum
digunakan disuatu wilayah tertentu supaya orang lain sebagai komunikan tidak
bingung dalam penggunaan media yang digunakan si komunikator.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Komunikasi dirumuskan sebagai suatu proses penyampaian pesan
atau berita ke beberapa orang. Dikarenakan komunikasi melibatkan seorang
pengirim dan menerima pesan yang mungkin juga memberikan umpan baliku ntuk
menyatakan bahwa pesan telah diterima. Komunikasi sangat penting dalam
kehidupan manusia karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan
satu sama lain. Dalam berkomunikasi seseorang harus memiliki dasar yang akan
menjadi patokan seseorang tersebut dalam berkomunikasi. Dalam proses komunikasi
kita juga harus ingat bahwa terdapat banyak hambatan-hambatan dalam
berkomunikasi.
Tujuan komunikasi adalah berhubungan dan mengajak dengan
orang lain untuk mengerti apa yang kita sampaikan dalam mencapai tujuan.
Keterampilan berkomunikasi diperlukan dalam bekerja sama dengan orang lain. Ada
dua jenis komunikasi, yaitu verbal dan non verbal, komunikasi verbal atau
tertulis dan komunikasi non verbal atau bahasa(gerak) tubuh.Komunikasi dua arah
terjadi bila pengiriman pesan dilakukan dan mendapatkan umpan balik. Seseorang
dalam berkomunikasi pasti dapat merasakan timbal balik antara pemberi informasi
serta penerima informasi sehingga terciptanya suatu hubungan yg mutualisme
antara keduanya.
Komunikasi organisasi dapat
didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiranpesan di antara unit-unit
komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi
terdiri dari dari unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarkis antara yang
satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan. Komunikasi organisasi
melibatkan bentuk-bentuk komunikasi antar
pribadi dan komunikasi kelompok.Komunikasi yang timbal balik diantara
manajer dan pengikut yang ada dalam organisasi sangatlah penting untuk mencapai
tujuan suatu organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Hendarin, Dikdik. Komunikasi Efektif
Mengantarkan Kita Kepada Kesuksesan.
[tersedia on line] bandung.lan.go.id. diakses
Selasa, 9 September 2014.
Lestari dan Maliki,
2006. Komunikasi yang Efektif Modul Pendidikan Dan Pelatihan
rajabatan Golongan
III. Lembaga Administrasi
Negara-Republik Indonesia. [tersedia on
line] diklat.jogjaprov.go.id. diakses Selasa,
9 September 2014.
Luthans, Fred. 2006,
Organizational Behavior, Mc Graw-Hill, New York.
Muhammad, Arni. 2009, Komunikasi Organisasi,
11th edn, Bumi Aksara, Jakarta.
Pace, R. Wayne & Faules, Don, F. 2005,
Komunikasi Organisasi: Strategi
Mengingkatkan Kinerja Perusahaan, 4th edn,
Remaja Rosdakarya, Bandung.
Syasyikirana, Wisyesa. Strategi Komunikasi
Organisasi antara Pimpinan dan Anggota
Pasca Restrukturisasi Manajemen (Studi Kasus
pada DetEksi Jawa Pos). [tersedia on
line] journal.unair.ac.id. diakses Selasa, 9
September 2014.
Winugroho, Agung. Komunikasi Efektif Guna
Meningkatkan Kinerja Organisasi.
[tersedia on line] asm.ariyanti.ac.id.
diakses Selasa, 9 September 2014.
Komentar
Posting Komentar